Jumat, 30 September 2011

MELUKIS WAJAH IBU DAN AYAH



            Gemercik air hujan terdengar jelas di telingaku, membasahi pepohonan yang semula kering menjadi basah kuyup hingga terlihat begitu subur. Sebasah hatiku dan juga adikku, karena tersiram oleh air mata kesedihan. Sedih sepeninggal kedua orang tuaku kemarin siang akibat tabrakan maut. Kini....aku harus memikul sendiri beban kehidupanku dan adikku. Aku harus bekerja walaupun aku masih duduk di bangku SMA. Aku harus mempertahankan pendidikan adikku, meski hanya bekerja sebagai penjual donat dan buruh cuci.
            Malam ini, kurasakan kesunyian yang sangat mendalam, tidak seperti malam-malam yang telah aku lewati bersama kedua orang tuaku. Canda tawa yang  mengiringi kami saat makan, nonton tv, bahkan tidur bersama, kini tak dapat kurasakan lagi. Tapi.... mulai mulai malam ini, aku mencoba menerima kehidupan ini, hidup tanpa kedua orang tuaku.
            Sejenak kupandangi wajah munggil adikku, dari wajahnay aku dapat mengartikan bahwa dia merasa sangat kesepian. Dengan tekat di hatiku, aku mencoba menghiburnya.
            ”Dik, kita harus menerima semua ini, kita harus bisa hidup tanpa orang tua. Ingatlah pesan ayah, dik kalau kita harus belajar dengan rajin, .agar bisa meraih cita-cita yang selama ini kita inginkan. Kakak yakin, bila ada tekat di hati kita, kita pasti bisa menggapai cita-cita itu setinggi mungkin”.
            ”Tapi aku rindu sama ayah dan ibu. Aku ingin dipeluk, dicium seperti dulu, kak!” Rengek adikku.
            ”Lila tidak sendiri, masih ada kakak dan juga keluarga sepupu kita di Surabaya. Walau jauh, mungkin mereka msih ingat sama kita” hiburku.
            ”Terus, sekarang kakak mau gimanna? Apakah kaka mau berhenti sekolah?”
            ”Tidak adikku,  kakak tidak akan berhenti sekolah, kakak akan sekolah sambil bekerja”
            ”Kerja apa, kak?”
            ”Insya Allah kakak akan bekerja membuat makanan-makanan ringan yang dpat dijual di sekolahan dan juga menjadi buruh cuci”.
            ”Kalau begitu, Lila bantu, ya kak!”
            ”Tidak usah Lila, lebih baik kamu fokus pada sekolahmu. Agar bisa mengembangkan bakatmu”.
            ”Bakat apa, kak?”
            ”Teruskan bakatmu dalam menulis cerpen dan puisi. Karena mungkin suatu saat bakatmu itu, akan berguna bagi kehidudupanmu. Nah, sekarang Lila tidur dulu, biar besok Lila tidak bangun kesiangan”.
            ”Ya, kak, Lila tidur dulu. Selamat malam....!”
            ”Selamat malam juga, semoga mimpi indah!”
            Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Lila sudah mulai bisa melupakan kesedihannya. Begitu pula dengan p[ekerjaanku, aku sudah mulai mengerti cara-car menjual donat yang bai, aku pun sudah memiliki banyak pel;anggan. Besok pagi, aku akan berjualan donat di pasar, karen abesok sekolahku libur.
            Sebagian bahan donat telah aku campurkan, hanya menunggu sampai mengembang lalu digoreng.  Malam semakin larut, rasa ngantuk pun mulai menyergapku. Tapi, dengan niatku, aku bisa melawan rasa ngantukku demi masa depanku dan masa depan adikku. Tak lama kemudian, adonan donat sudah mengembang. Denagn setengah ngantuk, aku mulai menggorengnya satu persatu. Setelah itu, aku memasukkannya kedalam keranjang. Setelah itu kuletakkan dia atas meja, lalu aku segera mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat tahajud dan kupanjatkan do’a pada Tuhan Semesta Alam.
            ”Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku. Dan hamba mohon, berikanlah hamba ketabahan dalam menjalani bahtera kehidupan hidu ini tanpa seorang ayah dan ibu. Rabbana aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, wakinaa adzaa bannaar. Amin....” itulah sepenggal do’aku kepada Allah SWT. Aku berharap do’aku itu dikabulkan oleh Allah SWT. Sehingga aku bisa menjalani bahtera hidup ini dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
            Gemuruh suara adzan subuh mulai menggema di seluruh desa, membangunkan umat muslim untuk menyembahi Tuhan pencipta jagat raya ini. Tuhan yang enjadikan manusia menjadi beberapa kelompok.
Adzan subuh telah usai, aku memulai sholat subuh dengan sekhusyuk mungkin. Dalam sholat subuhku, aku bagaikan melayang-layang di langit ketujuh. Mengabdi, bersujud pad Tuhanku, Tuhan Semesta Alam.
Jam terus berputar, sang mentari pagi mulai menyinari bumi. Secepatnya aku segera melepas mukenahkudan bersiap-siap menjual donat buatanku di pasar.
”Adik, kakak berangkat ke pasar dulu, ya...! Do’akan semoga donaatnya laris, dan jangan lupa bersih-bersih rumah, mumpung hari ini hari libur”.
”Iya, kak..! Hati-hati!”
”Assalamu’alaikum...”
”Wa’alaikumussalam...”
Selangkah demi selangkah, kulangkahkan kaki ini dari rumah sederhanaku menuju pasar tmpat orang-orang melakukan jual beli. Dalam perjalanan, aku mulai berteriak seperti penjual donat lainnya.
”Donat....donat....donatnya buk...! Cuma 500 Rupiah..!”
Tak terasa, aku telaah sampai di pasar. Setelah itu akusecepatnya mencari tempat yang nyaman. Akhirnya aku menemukan tempat itu. Dari kejahuan mata, aku melihat langkah seoranbg wanita menuju ke arahku, hati kecilku berjata bahwa wanita itu adalah guru adikku. Semakin lama, ia semakin mendekat. Lalu berkata :
”Dik, kamu Farah kakaknya Lila, kan? Kenapa jualan donat?”
”Iya, benar bu, saya Farah, kakaknya Lila, saya berjualan donat untuk memenuhi kehidupanm saya dan adik saya, bu.”
”Subhanaallah baru kali ini say menemukan anak sehebat kamu. Kalau begitu, ibu beli semua donatnya, ya!”
”Oo...iya, bu. Saya masukkan ke dalam plastik dulu. Tapi, ngomong-ngomong ibu beli donatnya kok banyak sekali ?”
”Iya, buat arisan nanti malam. O, ya... saya hampir lupa, melihat bakat adikmu dalam mengarang cerpen, saya ingin mengikutkan adikmu dalam lomba mengarang cerpen di Surabaya minggu depan. Bisa kan ?
”Tentu bisa, bu. Nanti akan saya sampaikan pad adik saya, dia pasti senang”.
”Ya sudah kalau begitu, ibu pulang dulu. Assalamu’alaikum”.
”Wa’alikumussalam”
Tanpa menunggu waktu lama, aku pulang ke rumah dengan hati gembira. Kegembiraan karena daganganku habis maupun kegembiraan karena adikku akan mengikuti lomba mengarang cerpen. Tak lama kemudian, aku pun sampai di rumah.
”Assalamu’alaikum, adik, kakak pulang !” teriakku sambil tersenyum.
”Wa’alaikumussalam”. Jawab adikku.
”Dik, kakak hari ini seneeeng banget.”
”Seneng kenapa, kak?”
”Kakak seneng karena dua hal. Pertama, kakan seneng karena dagangan kakak habis. Kedua, kakak seneng karena minggu depan, kamu diajak ibu gurumu loba cerpen...!!”
”O, ya?? Kakak yakin ?, tapi kakak ikut, ya..??”
”Ya, pasti sayang..., rencana judul cerpen untuk perlombaan minggu depan apa?”
”Judulnya MELUKIS WAJAH IBU DAN AYAH”
”Wah, ide bagus itu..,! buatlah cerpenmu sebaik-baiknya, jadikanlah orang lain menangis karena cerpenmu..”
”Iya, Insya Allah, kak..,”


*****

Jam terus berputar, hari pun telah berganti, dan akhirnya hari perlombaan adikku pun tiba. Sekitar pukul  tujuh pagi, mobil guru adikku datang. Aku pun segera memanggil adikku, setengah berteriak.
”Lila, ayo cepat Bu Guru sudah datang..!!”
”Iya, kak...” jawabnya
Setelah semua masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju dengan kencang, sehingga tubuhku menggigil karena AC. Beberapa jam kemudian, kami pun sampai di tempat perlombaan. Sebelum ita semua turun, aku membisikki telingan adikku.
”Dik, kalah atau menang, kamu harus tetap semangat, jangan putus asa.” ucapku sambil setengah berbisik.
”Iya kak, do’akan saja..”
”Ya, Pasti..” Jawabku memberi semangat.
Aku, Bu Guru, dan Nina pun turun dari mobil, lalu secepatnya menyetorkan naskah cerpen kepada dewan juri. Sambil menunggu pengumuman pemenang, kami duduk di kursi deretan paling depan. Sejenak, kupandangi sekelilingku. Sungguh, banyak sekali peserta lainnya yang juga merupakan saingan adikku yang sedang menunggu dengan didampingi orang tuanya. Sekilas, kupandangi wajah imut adikku, dan aku merasa terharu. Dia tampak tegar walau hanya didampingi oleh kaka dan gurunya.
Lama aku terlarut dalam lamunanku, hingga adikku memukul pundakku ketika salah satu dewan juri naik ke atas pentas untuk mengumumkan para juara. Suasana tegang pun mengiringi jalannya acara. Tak lama kemudian..........
”Saya di sini akan mengumumkan pemenang lomba mengarang cerpen tingkat kabupaten. Dan langsung saja, juara ketiga diraih oleh saudari Friska Maulida, dengan total nilai 205. Untuk juara kedua diraih oleh saudara Ali Firdaus, dengan nilai 225. Dan........ untuk juara pertama diraih oleh........ saudari Alilatun Najjah, dengan nilai 250. Dan untuk juara pertama, saya harap maju ke depan untuk menjelaskan sedikit tentang isi cerpennya.
Mendenggar itu aku kaget bukan main, tak kusangkan adikku menjadi juara pertama.
”Assalamu’alaikum Wr. Wb.” Ucap Lila di atas panggung
”Wa’alaikumussalam Wr. Wb.” Jawab penonton serentak.
”Ya, saya di sini akan menyampaikan inti daari cerpen saya. Cerpen saya ini mengisahkan dua orang gadis yang hidup sendiri tanpa kedua orang tua. Tapi, kedua gadis itu tetap bersabar menghadipi segala musibah yang dihadapinya dan selalu berusaha demi mencapai cita-citanya. Dan, keberhasilanku hari ini aku persembahkan untuk Kak Farah. Karena dialah yang telah menyemangatiku dan rela menjadi buruh cuci serta penjual donat demi memenuhu kebutuhan hidupku. Kepada kakaku tercinta,kemenangan ini kupersembahkan khusus untukmu.!”
Sungguh, aku tak kuasa menahan air mata. Aku sangat terharu, dan pastinya bangga dengan adikku. Kini sudah nasihat ayah telah terbukti, keberhasilan seseorang bukan karena harta yang dimiliki, namun kesungguhanlah yang menentukannya.
Hatiku berkata ”Ya Allah... saat kupandang wajah munggil adikku, aku bagaikan melukis wajah ayah dan ibu. Semoga engkau senantiasa menyayangi dan senantiasa memberi ampunan bagi mereka.” Amin...., Amin Ya Rabbal Alamin...,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar